Friday, August 07, 2015

Fisika: Penjajahan Budaya Ilmiah

Ketika kita bekerja di fisika, kita hanya menjumpai paradigma tunggal saja, maka fisika di asia, amerika dan eropa sama. Orang bilang bahwa inilah universalitas fisika.

Padahal sejatinya inilah bentuk penjajahan budaya "ilmiah" eropa dan amerika.

Di ilmu sosial, ada banyak paradigma yg dapat bekerja dalam waktu yg sama.

=========
Pak J:
Paradigma itu apa tha?

Saya:  
Paradigma itu bisa seperangkat asumsi, nilai yg diyakini ilmuwan. Bisa juga cara pandang ilmuwan.


Pak J:
Apakah paradigma terikat oleh budaya tertentu atau ras tertentu? 

Saya
Paradigma terkait dengan budaya, bahkan agama bisa mempengaruhi paradigma. Kalau dengan ras, saya belum mengetahui nya.

Pak J:
Bukankah agama itu juga sebuah paradigma? Dan budaya adalah konsekuensi sebuah paradigma?

Saya:
Betul Bapak. Agama juga merupakan cara pandang, paradigma. Tentu saja yg kita maksud paradigma di sini ialah sesuatu yg secara khusus di fisika. Bagaimana cara fisikawan memandang alam, itu disebut paradigma. Oleh karena itu, dalam konteks ini, paradigma sangat bisa dipengaruhi pleh agama dan budaya sang fisikawan.

Dalam pembicaraan di lain tempat,kita bisa langsung menyatakan bahwa agama merupakan paradigma sebab tiap agama akan menawarkan cara pandang yang khas.

Pak A:
Apa bapak bisa menjelaskan dengan lebih spesifik pada bagian & ranah yang manakah bentuk penjajahan budaya "ilmiah" eropa dan amerika mengintervensi metodologi atau kerja dalam fisika?

Saya:
Pandangan kita ttg alam semesta saja sudah bukan pandangan yg turut pada leluhur dan juga keyakinan agama kita. Kita bisa melacaknya sejak ontologi, epistemologi dan aksiologi fisika kita  

Bu A:
ontologi, epistemologi, dan aksiologi kie opo mas?

Saya:
Ringkasnya, ontologi itu bicara objek kajian, epistemologi bicara cara mengetahui objek kajian dan aksiologi bicara setelah mengerti ttg objek kajian itu, njuk arep ngopo (tujuan)

Ontologi fisika kita hanya mengakui objek-objek yang inderawi. Oleh karena itu pengetahuan apapun tentang material yg tidak inderawi akan ditolak dan dianggap tidak ilmiah.

Pak J:
Objek yang tidak inderawi itu seperti apa?

Saya:
objek tidak inderawi itu objek yang manusia tidak dapat mengukurnya dengan angka (Kelvin) atau tidak dapat membahasakannya dengan matematika (Galileo).

Pak J:
Contohnya?

Saya:
contoh yang barangkali paling ekstrim ialah ruh. dalam keyakinan seorang muslim, setiap benda itu memiliki ruh. dalam budaya animisme dinamisme, keyakinan ini juga dapat kita temukan. tapi pandangan fisika tidak mengakui keberadaan ruh dalam setiap benda. oleh karena itu pandangan fisika tentang aktivitas kebumian (misalnya gempa) dan aktivitas gunung api akan berbeda.  

KEtika di Madinah terjadi Gempa, Umar bin Khattab langsung berseru "maksiat apa yang sudah dilakukan oleh penduduk madinah ini sehingga terjadi gempa". pandangan fisika hanya akan sampai pada sebatas fenomena lempeng bumi yang bergerak saja. titik. fisika. tidak akan sampai pada kaitan bumi sebagai makhluk dan manusia sebagai makhluk yang hidup di atasnya.

Demikian juga kasus Merapii 2006 yang melibatkan Mbah Maridjan dan para vulkanolog. Idiom-idiom yang digunakan sudah menunjukkan keyakinan yang berbeda. Vulkanolog dan kita menyebut aktivitas Merapi dengan meletus, bencana, wedhus gembel dst. Mbah Maridjan menggunakan idiom keraton merapi, sedang bersih-bersih, dan melarang menyebutnya sebagai wedhus gembel karena dianggap sebagai ungkapan penghinaan kepada merapi.

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada 2006 di Merapi, tetapi akhirnya kita semua mengetahui bahwa pada 2006 itu Merapi tidak jadi erupsi besar ()

persis seperti keyakinan mbah maridjan yang tidak mau turun gunung karena meyakini bahwa merapi tidak akan meletus. vulaknologo saat itu meyakini berdasarkan data-data yang dikumpulkan bahwa merapi akan meltus.

Demikian juga misalnya peristiwa petir. Fisika kita hanya sampai pada fenomena listrik statis. Peradaban yunani dengan mitoloinya meyakini bahwa petir adalah ungkapan kemarahan hercules. Peradaban cina meyakini bahwa petir adalah ungkapan kemarahan dewa langit. Dalam islam, ketika terjadi petir kita dianjurkan untuk berdzikir, berlindung kepada Allah (dari murka-Nya).

Pak J:
Mengapa disebut 'fisika' atau 'physics'?

Saya:
Tentang fisika. sejauh yang saya tahu, istilah physics sudah digunakan aristoteles. tapi pada masa peradaban islam, keilmuan ini tidak dinamai dengan fisika tapi ilmu thabi'ah (watak). pada masa newton, ia menyebutnya sebagai filsafat alam.      

pada abad ke-19 mulailah digunakan kembali istilah physics

  
    
    

No comments:

Post a Comment