Animasi ini menjelaskan dengan sangat baik apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita. Silakan menikmati dan merenung.
Penjelasan akademik dari anmasi ini dapat dibaca dalam Buku ILUSI EKONOMI MODERN (2015).
Wednesday, July 29, 2015
Sunday, July 26, 2015
Buku 40 Hadits tentang Alam Sekitar Kita
Keyakinan tersebut
benar tetapi sebatas pada tingkatan sains yang sekuler. Pada titik ini banyak
yang tidak menyadari dan larut begitu saja dengan keyakinan sekuler ini.
Sains sebagai proses
budaya manusia sejatinya juga menyimpan pilar-pilar “keimanan” yang akan
menuntun manusia memandang seluruh fenomena di alam semesta. Dalam sains yang
sekuler, pilar-pilar “keimanan” itu tidak diijinkan untuk didirikan di atas
pijakan agama. Bukan hanya Islam melainkan seluruh agama.
Tuesday, July 14, 2015
Buku Ilusi Ekonomi Modern
Judul: Ilusi Ekonomi Modern: Apa yang Sesungguhnya Terjadi dengan Uang Kita
Penulis: Rachmad Resmiyanto
Penerbit: Periuk
Tahun: 2015
Hal: v + 185 hal
Penulis: Rachmad Resmiyanto
Penerbit: Periuk
Tahun: 2015
Hal: v + 185 hal
Labels:
Agama,
Ekonofisika,
Fisika
Sunday, May 17, 2015
Ilmu, Dikembangkan untuk Apa?
Ada seuntai kalimat berbahaya yang hendak saya kutip di sini. Kalimat itu punya bunyi begini, "hasil penelitian tidak akan banyak memberikan maslahat bagi masyarakat jika eksistensinya hanya dalam bentuk manuskrip." Masih ada lagi kalimatnya. "mengapa hasil peneltian kita hanya sekedar menjadi pajangan di rak-rak buku perpustakan atau rumah kita. atau paling banter dipubilkasikan dalam seminar/jurnal dan seditkit yang sampai ke hak paten, kalopun ada hak patennya, belum tentu mendatangkan royalti. IRONIS."
Kalimat ini hadir setelah sebelumnya ada sebuah cerita 2 profesor yang juga menjadi wiraniaga. Semuanya diceritakan di bawah sebuah judul yang indah, "agar hasil penelitian menjadi lebih maslahat". Saya sungguh terkejut. Sebuah kemanfaat ilmu ternyata dibicarakan dalam bingkai komersialisasi. Sebuah kemaslahatan ilmu ternyata dibincangkan dalam ranah barang dagangan.
Kalimat ini hadir setelah sebelumnya ada sebuah cerita 2 profesor yang juga menjadi wiraniaga. Semuanya diceritakan di bawah sebuah judul yang indah, "agar hasil penelitian menjadi lebih maslahat". Saya sungguh terkejut. Sebuah kemanfaat ilmu ternyata dibicarakan dalam bingkai komersialisasi. Sebuah kemaslahatan ilmu ternyata dibincangkan dalam ranah barang dagangan.
Labels:
Fisika,
Pendidikan
Saturday, March 14, 2015
Rencana Buku: Teori Moneter Madzhab Yogya
Sekapur Sirih
Judul buku: Teori Moneter Madzhab Yogya: Mengungkap Apa yang Terjadi pada Uang Kita
Saya mengembangkan rumusan model moneter dalam buku ini berangkat dari kias gas ideal dalam fisika. Acapkali saya menyebutnya sebagai model moneter gas ideal. Namun, ijinkan saya untuk akhirnya menyebut ia sebagai teori moneter madzhab Yogya. Sebagai sebuah model, buku ini sangat terbuka untuk kita diskusikan bersama. Tanggapan dan kritik akan turut menambah kesempurnaan model ini.
Dengan segenap kerendahan hati, saya mempersilakan pembaca untuk menguji model moneter ini. Apakah ia dapat disejajarkan dengan teori kuantitas uang klasik ala Fisher, madzhab Cambridge atau rumusannya Keynes? Saya persilakan pembaca untuk menjawabnya usai membaca buku ini.
Judul buku: Teori Moneter Madzhab Yogya: Mengungkap Apa yang Terjadi pada Uang Kita
Saya mengembangkan rumusan model moneter dalam buku ini berangkat dari kias gas ideal dalam fisika. Acapkali saya menyebutnya sebagai model moneter gas ideal. Namun, ijinkan saya untuk akhirnya menyebut ia sebagai teori moneter madzhab Yogya. Sebagai sebuah model, buku ini sangat terbuka untuk kita diskusikan bersama. Tanggapan dan kritik akan turut menambah kesempurnaan model ini.
Dengan segenap kerendahan hati, saya mempersilakan pembaca untuk menguji model moneter ini. Apakah ia dapat disejajarkan dengan teori kuantitas uang klasik ala Fisher, madzhab Cambridge atau rumusannya Keynes? Saya persilakan pembaca untuk menjawabnya usai membaca buku ini.
Labels:
Ekonofisika
Sunday, June 01, 2014
Buku Ekonofisika: Nalar Fisika di Pasar Saham
Saya menulis buku ekonofisika. Judul bukunya Nalar Fisika di Pasar Saham: Pengantar Ekonofisika.
Buku ini menyuguhkan lompatan-lompatan nalar dari fisika ke pasar saham. Harapannya, buku ini akan turut melengkapi khazanah buku referensi ekonofisika di Indonesia yang masih sangat langka.
Bagi pembaca dari fisika yang merindukan medan kajian yang menantang, ekonofisika patut untuk dipertimbangkan. Bagi pembaca dari ekonomi yang merindukan cara pandang atau paradigma baru dalam melihat medan persoalan ekonomi, ekonofisika layak diperhitungkan kecanggihannya.
Ia hendak menempatkan buku ini sebagai buku yang menawarkan gagasan bahwa nalar fisika dapat dibawa ke ranah yang berbeda. Ia tidak sedang mendakwahkan pasar sahamnya tetapi mendakwahkan jalan berpikir fisikanya. Semoga tujuan buku ini tercapai.
Buku ini gratis. Anda dapat mengunduhnya tanpa harus membayar.
https://drive.google.com/file/d/0Bxy4suKzO1Jub0ZXRWRkSnh6VVk/view
Buku ini menyuguhkan lompatan-lompatan nalar dari fisika ke pasar saham. Harapannya, buku ini akan turut melengkapi khazanah buku referensi ekonofisika di Indonesia yang masih sangat langka.
Bagi pembaca dari fisika yang merindukan medan kajian yang menantang, ekonofisika patut untuk dipertimbangkan. Bagi pembaca dari ekonomi yang merindukan cara pandang atau paradigma baru dalam melihat medan persoalan ekonomi, ekonofisika layak diperhitungkan kecanggihannya.
Ia hendak menempatkan buku ini sebagai buku yang menawarkan gagasan bahwa nalar fisika dapat dibawa ke ranah yang berbeda. Ia tidak sedang mendakwahkan pasar sahamnya tetapi mendakwahkan jalan berpikir fisikanya. Semoga tujuan buku ini tercapai.
Buku ini gratis. Anda dapat mengunduhnya tanpa harus membayar.
https://drive.google.com/file/d/0Bxy4suKzO1Jub0ZXRWRkSnh6VVk/view
Labels:
Ekonofisika
Thursday, March 22, 2012
Monday, August 15, 2011
Ketika Telah Tiba Saat Menikah
Oleh Rachmad Resmiyanto
http://www.eramuslim.com/oase-iman/rachmad-resmiyanto-ketika-telah-tiba-saat-menikah.htm
MENIKAH adalah keputusan yang besar dalam hidup kita. Ini adalah pilihan yang tidak main-main. Memilih seorang pasangan yang dengannya kita akan membangun sebuah keluarga, menurunkan keturunan dan hidup bersama dalam segenap suasana bukanlah persoalan yang hanya untuk satu dua tahun saja, melainkan untuk sepanjang tahun. Untuk jangka waktu yang selama-lamanya. Bahkan bukan hanya di dunia, tapi juga untuk hidup di akhirat. Demikianlah, kita perlu mempertimbangkan dengan seksama dan matang perihal ini.
Sejatinya, keputusan apapun dalam hidup kita merupakan peristiwa besar. Dari keputusan itu, kelak rangkaian peristiwa akan terus bergulir. Ada peribahasa lawas, langkah keseribu dimulai dengan langkah pertama. Kita perlu hati-hati dan cermat ketika memutuskan, apapun. Orang Cina kuno punya pepatah, rusak seinci rugi seribu batu. Maka, pengambilan keputusan merupakan pertemuan dengan sebuah revolusi.
Labels:
Pernikahan
Tuesday, August 02, 2011
Matematika dan Perang
Matematika Bisa Memprediksi Kapan akan Terjadi Serangan di Irak dan Afghanistan
Peristiwa-peristiwa kekejaman dalam sebuah peperangan seringkali terlihat terjadi secara acak. Tapi jika berkaitan dengan berbagai peristiwa serangan yang dilakukan kelompok perlawanan di Irak dan Afghanistan, kejadiannya tidak selalu random dan bisa diprediksi secara matematis.
Labels:
Fisika,
Riset Operasi
Korupsi itu dimulai dari ruang kelas
Mahasiswa memang makhluk cerdik dan piawai dalam mengembangkan teknik-teknik mencontek.Syukurnya, mahasiswa kategori ini memang tak banyak. Mereka jumlahnya minoritas. Beberapa waktu lalu, ketika ujian akhir semester, saya menemukan ada mahasiswa yang mencontek. Saya ambil kamera buat memotret bukti contekannya. Usai mengawas ujian, saya tempel poster ini di kampus, "Korupsi itu dimulai dari ruang kelas".
Labels:
CaBe - Catatan Bebas,
Kuliah,
Pendidikan
Subscribe to:
Posts (Atom)





