Friday, April 15, 2011

Hukum Gravitasi Newton: Sedikit Tafsir Alam

Rachmad Resmiyanto

Hukum gravitasi tidak di-formulasikan dalam suatu persamaan matematis yang didasarkan pada Scientific Experiment. Mulanya, Newton menyusunnya secara konseptual. Ia berawal dari gagasan filsafat Newton tentang alam ini. Tetapan gravitasi universal sendiri baru ditetapkan ketika teori Newton itu sudah berumur 100 tahun. Ada jarak sejauh 1 abad antara Newton dengan Cavendish yang mengukur tetapan gravitasi universal Newton. Karya Newton terbit 1687. Cavendish baru bikin buktinya tahun 1790-an. Saya masih sulit membayangkan bagaimana teori Newton berterima di kalangan ilmuwan tetapi dengan sebuah tetapan yang belum diketahui. Saya masih belum tahu bagaimana situasi yang semacam itu.

Newton merupakan seorang rasionalis. Seluruh fisikanya dibangun dengan kekuatan akal, logika deduksi. Maka, tatkala Hukum Keppler (yang dirumuskan hanya berdasarkan pada data pengamatan saja dan tidak disandarkan pada suatu basis teoretis) ternyata juga dapat dicapai dengan konsep Newton, pandangan-pandangan Newton kemudian membahana. Gerak benda langit ternyata dapat dijelaskan hanya dengan kekuatan logika manusia di atas bumi saja, ini prestasi yang luar biasa. Para ilmuwan memandang konsep-konsep Newtonian dengan penuh decak kekaguman. Ini bukan hanya berlaku di fisika saja, tetapi pada banyak disiplin ilmu, bahkan ekonomi, juga psikologi.

Adikarya Newton, Philosophie Naturalis Principia Mathematica (Prinsip Matematika dalam Filsafat Alam) 1687, menunjukkan bahwa konsep-konsep Newton merupakan pandangan filsafatnya yang kemudian hendak dirumuskan dalam bahasa matematika. Newton percaya, satuan dasar alam semesta adalah partikel. Inilah yang pertama kali diciptakan Tuhan. Setelah partikel tercipta, Tuhan kemudian mencipta hubungan yang mengatur antar partikel. Partikel berinteraksi dengan partikel lainnya melalui sebuah gaya. Ia menyebutnya sebagai gaya gravitasi. 

Pandangan-pandangan filsafat semacam itu kemudian naik maqamnya menjadi semacam keyakinan atau "iman" dalam ilmu pengetahuan. Keyakinan inilah yang kemudian jadi pegangan, pertanyaan apa saja yang pantas diajukan, bagaimana sebuah pertanyaan harus dibuktikan dan seterusnya.  Serangkaian semacam ini yang saya maksud dengan penafsiran.

Tabik.

Kampus 3 sayap utara
Warungboto, 12 Jumadil 'Ula  1432/16.04.2011
[untuk milis dosen uad, jawaban buat Hariyadi, Ph.D]

No comments:

Post a Comment