Friday, April 15, 2011

Teknologi, bebas nilaikah?

Rachmad Resmiyanto

Ada banyak pakar yang memberikan takrif apa itu teknologi. Bagi saya, perngertian teknoologi amat sederhana saja. Ia merupakan rekayasa atas apa  yang sudah diketahui manusia untuk digunakan membantu hidup manusia. Pengetahuan kita tentang adanya suatu deposit energi pada air yang terbendung, energi potensial, menuntun kita bagaimana memanfaatkan energi itu buat membantu hidup kita. Maka, hadirlah pembangkit listrik tenaga air. Teknologi merupakan rekayasa atas pengetahuan agar pengetahuan itu punya manfaat. Tatkala kita tahu bahwa sinar radioaktif  memiliki sifat negatif, yakni dapat membunuh, maka kita lakukan rekayasa agar ia dapat membunuh kuman sehingga perlatan operasi bedah kita dapat disterilkan dengannya, tanpa perlu dibakar lagi.

Kalau kita hanya menilik teknologi sebatas ia semacam sebilah pisau, maka benar jika lantas kita mengambil simpulan, teknologi itu bebas nilai. Sebilah pisau baru dihukumi sebagai pisau yang jahat ketika ia bersama pembunuh. Ia baru kita sebut pisau yang mulia tatkala ia kita bawa serta dalam penyembelihan hewan qurban. Wajar jika kita ambil pendapat bahwa pisau tak punya nilai dalam dirinya. Kalau kita hanya melihat bahwa selama ini tak ada hukum gravitasi islam dan hukum gravitasi kafir, tak ada teori pembelahan sel nasrani dan teori pembelahan sel hindu, maka sangat absah jika kita kemudian mempertegas bahwa sains itu universal. Ia berlaku buat segala bangsa dan tak punya nilai-nilai dalam kandungannya.

Apa benar demikian? Apa iya teknologi dan juga sains merupakan sesuatu yang netral? Apa iya yang menetukan baik buruknya sains dan teknologi hanya gayut (bergantung) pada pemegangnya saja? Ini merupakan pertanyaan yang menarik. Ini pertanyaan yang sangat mendasar dalam konstelasi keilmuan kita.

Saya hanya ingin mengingatkan, sains dan teknologi tak bisa disederhanakan hanya dalam sebilah pisau. mereka dibangun dengan serangkaian prosedur yang sarat dengan nilai. Jika kita berpikir bahwa tak ada hukum gravitasi islam dan kafir, yang ada hanya hukum gravitasi yang berlaku universal tanpa melihat agama dalam ktp kita, maka disini saya hendak membawa warta untuk itu. Semua itu adalah tafsir. Saya meyakini bahwa segenap Formulasi matematis atas alam ini hanya ada dalam kepala kita. Ia hanyalah tafsiran kita atas sebuah realitas. Tafsiran kita ini kemudian menjadi realitas baru dalam ilmu pengetahuan. Proses menafsirkan ini dibahas dalam kajian filsafat ilmu. Jangankan Islam dan non Islam, antara Barat dan Timur saja sudah punya pandangan yang beda atas alam ini. Jangankan antara Barat dan Timur saja, antara seorang siswa dan kawannya saja punya imajinasi dan tafsiran yang beda tentang konsep atom yang diajarkan sang guru. Semuanya adalah tafsir atas ayat-ayat kauniyah. Siapa yang menafsirkan, prosedur penafsiran dan bagaimana hasil tafsirnya, inilah yang bikin sains dan teknologi itu punya nilai.

Tabik.

Auditorium Kampus I
Univ Ahmad Dahlan, 11 Jumadil 'Ula 1432 H / 15.04.2011

No comments:

Post a Comment